Merintis Usaha Baru
Sebagai
mana kita ketahui, untuk menjadi
seorang wirausaha atau kewirausahaan yang sukses tidak hanya mempunyai
keterampilan di bidang usaha tertentu akan tetapi juga mempunyai kemauan dan
kemampuan (Jiwa Kewirausahaan).
Mampu dalam menangkap ide peluang peluang bisnis dan manajerialnya, cakap untuk
bekerja, mengorganisir, kreatif serta mempunyai kemamuan yang kuat untuk
konsisten dan tidak mudah menyerah (menyukai tantangan).
Selanjutnya
adalah tahap memasuki dunia
usaha, ada tiga cara untuk memulai atau memasuki dunia usaha atau kewirausahaan
yaitu merintis usaha baru, membeli perusahaan yang sudah ada di pasar dan kerja
sama manajemen.
Sebelum
kita membahas mengenai usaha baru
dan model pengembangannya, alangkah baiknya Kita mengetahui akan pengertian dan
tujuannya. Menurut Brown dan Protello, bisnis adalah suatu lembaga yang
menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat, apabila kebutuhan
masyarakat meningkat, maka lembaga bisnis inipun akan meningkat pula
perkembangannya dalam melayani masyarakat.
Sedangkan
tujuan dari pembisinis itu adalah Untuk memasuki dunia usaha, seseorang harus
memiliki jiwa sebagai seorang wirausaha. Wirausaha adalah orang yang
mengorganisir, mengelola, dan memiliki keberanian menghadapi resiko. Sebagai
pengelola sekaligus pemilik usaha, kita harus memiliki Kecakapan
untuk bekerja, mengorganisir,
kreatif, dan lebih menyukai tantangan.
Sedangkan
tujuan dari pembisinis itu adalah Untuk memasuki dunia usaha, seseorang harus
memiliki jiwa sebagai seorang wirausaha. Wirausaha adalah orang yang
mengorganisir, mengelola, dan memiliki keberanian menghadapi resiko. Sebagai
pengelola sekaligus pemilik usaha, kita harus memiliki Kecakapan
untuk bekerja, mengorganisir,
kreatif, dan lebih menyukai tantangan.
Pengertian
dari bisnis menurut Hugnes dan Kapoor, adalah suatu kegiatan usaha individu
yang diorganisasi untuk menghasilkan atau menjual barang dan jasa guna
mendapatkan keuntungan dan memenuhi kebutuhan masyarakat .Menurut hasil survey
yang dilakukan oleh Peggy Lambing (2000:90), 43% responden (wirausaha) memulai
usaha atau mendapatkan ide untuk berbisnis dari pengalaman yang diperoleh ketika
bekerja di beberapa perusahaan, 11% responden memulai usaha untuk memenuhi
peluang pasar, sedangkan 46% memulai usaha dikarenakan hobi.
Beberapa
hal penting yang harus diperhatikan dalam membangun sebuah usaha (bisnis) bar
di antaranya adalah :
·
Jenis
produk (barang) yang dibutuhkan dalam
pasar,
·
Konsumen
terhadap produk (barang) yang
diinginkan,
·
Daya
beli konsumen dalam pasar tertentu dan
sejenis dalam pasar tersebut.
Dalam
memasuki dunia bisnis, seseorang dituntut untuk tidak hanya memiliki kemampuan
tetapi juga ide dan kemauan. Ide dan kemauan itulah yang akan diwujudkan dalam
bentuk penciptaan/pembuatan barang dan jasa yang laku di pasar.
Langkah-langkah
dalam memulai usaha:
·
Mengenali
Peluang Usaha Seseorang dalam
menangkap peluang, antara lain juga bisa dipengaruhi oleh pengetahuan atau
informasi yang dimilikinya. Menurut Shane dikemukakan bahwa akses terhadap
informasi dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan hubungan sosial.
·
Optimalisasi
Potensi Diri. Untuk memulai
usaha perlu dilakukan self evaluation atau self assesment, yaitu penilaian atas
kemampuan diri sendiri. Caranya ialah dengan menanyakan pada diri sendiri,
misalnya: “Sesungguhya saya ini bisa apa ya?”
·
Mengoptimalkan
untuk memotivasi diri.
·
Fokus
dalam Bidang Usaha :
1.
Fokus
berarti memusatkan perhatian
pada suatu usaha tertentu yang sudah
ditekuninya, yaitu fokus pada produk dan fokus pada biaya rendahnya (efisien
dalam pebiayaan).
2.
Fokus,
berarti pula ia menekuni bidang
usahanya sampai ia dikenal oleh pelanggan sebagai satu-satunya yang terbaik di
bidang itu.
3.
Fokus,
juga bisa dimaknai bahwa memulai
berwirausaha berawal dari hal-hal yang kecil dan terfokus berdasarkan
sumberdaya yang dimilikinya.
·
Berani
Memulai, untuk memulai berusaha
harus ada:
a.
Peluang
b. Potensi
diri
c. Motivasi
yang tinggi
d.
Keberanian memulai
Proses
Memulai Bisnis
Apapun
jenis dan bentuk bisnis yang akan kita jalani, pastinya mempunyai proses.
Proses-proses tersebut adalah :
·
Ide
Penemuan
tidak sengaja dan pencarian ide
dengan dasar pertimbangan.
Banyak
kalangan mencari ide baru dengan melakukan beberapa usaha. Usaha ini dapat
dilakukan dengan cara magang pada usaha lain atau dengan cara membaca beberapa
tabloid atau majalah untuk dapat mengembangkan pikiran secara serius mengenai
ide membuka sebuah usaha baru. Majalah atau tabloid dapat dijadikan sebagai
pendukung untuk mencari sumber pertimbangan ide baru.
·
Modal
Dalam
hal ini, modal yang dimaksud bukan
saja modal berupa uang, tetapi juga berupa barang, orang (tenaga kerja/skill),
dan juga fasilitas. Modal berupa uang atau sumber dana tersebut dapat diperoleh
dari kekayaan sendiri, dari badan-badan keuangan (seperti; bank, pegadaian,
koperasi), dan juga dari orang-orang yang bersedia menjadi penyandang dana
(investor/penanam modal).
·
Barang
dan jasa
Menentukan
barang dan jasa yang akan
dijadikan sebagai objek bisnis tentunya harus memiliki pasar (dibutuhkan konsumen
dan laku di pasaran).
·
Pasar
Mengamati
peluang pasar sebelum menciptakan barang dan jasa (barang dan jasa apa yang
sedang banyak diminati oleh konsumen).
·
Profit
Bila
peluang pasar sudah tersedia, maka tinggal memproduksi barang dan jasa yang
telah ditentukan sebagai objek bisnis, memasarkannya dan segera mendapatkan
keuntungan dari penjualan barang dan jasa yang ditawarkan.
Hal-hal
yang diperhatikan dalam merintis
usaha baru :
·
Bidang
dan Jenis Usaha Yang Akan
DimasukiAdanya pengenalan jenis usaha, diharapkan dapat memperoleh gambaran
secra sederhana sehingga menjamin proses pencapaian tuuan dan sasaran usaha
yang telah direncanakan.
Secara
umum, bidang dan jenis usahanya adalah;
·
Bidang
agraris, yaitu kegiatan usaha yang
meliputi: pertanian, perikanan, perkebunan.
Bidang ekstraktif, yaitu kegiatan usaha yang bergerak dalam bidang
pengumpulan hasil alam, seperti pertambangan, penggalian bahan baku dalam bumi
dan pengambilan hasil alam.
·
Bidang
industri, yaitu kegiatan usaha yang
bergerak dalam bidang pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi dan
barang jadi, seperti industri makanan, industri kayu dan industri tekstil.
·
Bentuk
Usaha dan kepemilikan yang akan di
pilih perusahaan perseorangan (PO)
·
Bentuk
usaha ini paling sederhana dan mudah
mengorganisasikannya karena pemiliknya hanya satu orang dan langsung dikelola
sendiri. Usaha persekutuan didirikan minimal dua orang secara bersama membangun
sebuah usaha dengan menjadi pemilik bersama dari suatu perusahaan, dengan
mengumpulkan sejumlah kekayaan. Kekayaan yang dikumpulkan itu dapt berupa dana,
tenaga, keahlian dan sarana lain yang dapat menunjang jalannya usaha.
Keangotaan persekutuan terdiri dari dua kelompok, yaitu anggota pasif
persekutuan dan anggota aktif persekutuan. Anggota pasif persekutuan,
kedudukannya dalam usaha ini adalah sebagai peserta yang hanya menyetorkan
modal saja
·
Tempat
Usaha yang Akan Dipilih,Para
pengelola usaha sangat berkepentingan dalam mencari tempat usaha yang
strategis. Perusahaan yang akan didirikan sudah barang tentu di tempat yang
sangat potensial (strategis). Tempat usaha harus berdekatan dengan tempat
konsumen, agar dapat menjamin penyerahan Barang yang mudah dan cepat .Tempat
usaha yang strategis adalah tempat atau letak perusahaan melakukan aktivitas
berikut pemasarannya, serta penjualan barang dagangan yang dapat memberikan
keuntungan besar. Selain itu, tempat usaha yang strategis juga memiliki berbagai
fasilitas, seperti; tempat parkir yang luas, transportasi yang mudah dijangkau
dan lancar.
·
Organisasi
Usaha yang Akan Dipilih,Menurut
George R. Terry, organisasi adalah mengalokasikan seluruh pekerjaan yang harus
dilaksanakan antara kelompok kerja dan menetapkan wewenang serta tanggungjawab
masing-masing individu yang bertanggungjawab untuk setiap komponen.
Studi
kelayakan usaha secara umum dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai
berikut:
·
Tahap
Penemuan ide. Pada tahap ini
wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha barunya. Ide tersebut kemudian
dirumuskan dan diidentifikasi. Misalnya peluang bisnis apa saja yang paling
memberikan keuntungan, yaitu: bisnis industri, perakitan, perdagangan, usaha
jasa, atau jenis usaha lainnya yang dianggap paling layak. Memformulasikan
Tujuan. Tahap ini adalah tahap perumusan visi dan misi bisnis. Apa visi dan
misi bisnis yang hendak diemban setelah jenis bisnis tersebut diidentifikasi?
Apakah misinya untuk menciptakan barang dan jasa yang sangat diperlukan
masyarakat sepanjang waktu ataukah untuk menciptakan keuntungan yang langgeng?
·
Tahap
Analisis. Proses sistematis yang
dilakukan untuk membuat suatu keputusan apakah bisnis tersebut layak
dilaksanakan atau tidak. Tahapan ini dilakukan seperti prosedur proses
penelitian ilmiah lainnya, yaitu dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah, menganalisis,
dan menarik kesimpulan. Kesimpulan dalam studi kelayakan usaha hanya dua, yaitu
dilaksanakan (go) atau tidak dilaksanakan (no go).
·
Tahap
Keputusan. Langkah berikutnya adalah
tahap mengambil keputusan apakah bisnis layak dilaksanakan atau tidak. Karena
menyangkut keperluan investasi yang mengandung risiko, maka keputusan bisnis
biasanya berdasarkan beberapa kriteria investasi, seperti Pay Back Period
(PBP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return, dan sebagainya
Setelah
ide untuk memulai usaha muncul, maka langkah pertama yang harus dilakukan
adalah membuat perencanaan. Perencanaan usaha adalah suatu cetak biru tertulis
(blue-print) yang berisikan tentang misi usaha, usulan usaha, operasional
usaha, rincian finansial, strategi usaha, peluang pasar yang mungkin diperoleh,
dan kemampuan serta keterampilan pengelolanya. Perencanaan usaha sebagai
persiapan awal memiliki dua fungsi penting, yaitu :
1.
Sebagai
pedoman mencapai keberhasilan
manajemen usaha.
2.
Sebagai
alat untuk mengajukan kebutuhan
permodalan yang bersumber dan luar.
Kelebihan
dan Kelemahan Usaha Kecil
Kelebihan
usaha kecil
Memiliki
kebebasan untuk bertindak. Bila
ada perubahan, misalnya perubahan produk baru, teknologi baru, dan perubahan
mesin baru, usaha kecil bisa bertindak dengan cepat untuk menyesuaikan dengan
keadaan yang berubah tersebut. Sedangkan, pada perusahaan besar, tindakan cepat
tersebut susah dilakukan.
Fleksibel.
Perusahaan kecil sangat luwes,
ia dapat menyesuaikan dengan kebutuhan setempat. Bahan baku, tenaga kerja dan
pemasaran produk usaha kecil pada umumnya menggunakan sumber-sumber setempat
yang bersifat lokal. Beberapa perusahaan kecil di antaranya menggunakan bahan
baku dan tenaga kerja bukan lokal yaitu menda-tangkan dari daerah lain atau
impor.
Tidak
mudah goncang. Karena bahan baku dan
sumber daya lainnya kebanyakan lokal, maka perusahaan kecil tidak rentan
terhadap fluktuasi bahan baku impor. Bahkan bila bahan baku impor sangat mahal
sebagai akibat tingginya nilai mata uang asing, maka kenaikan mata uang asing
tersebut dapat dijadikan peluang dengan memproduksi barang-barang untuk
keperluan ekspor.
Kelemahan
perusahaan kecil
Aspek
kelemahan struktural. Kelemahan dalam
struktur perusahaan misalnya kelemahan dalam bidang manajemen dan organisasi,
kelemahan dalam pengendalian mutu, kelemahan dalam mengadopsi dan penguasaan
teknologi, kesulitan mencari permodalan, tenaga kerja masih lokal, dan
terbatasnya akses pasar. Kelemahan faktor struktural yang satu saling terkait
dengan faktor yang lain kemudian membentuk lingkaran ketergantungan yang tidak
berujung pangkal dan membuat usaha kecil terdominasi dan rentan.
Secara
struktural, salah satu kelemahan
usaha kecil yang paling menonjol adalah kurangnya permodalan. Akibatnya terjadi
ketergantungan pada kekuatan pemilik modal. Karena pemilik modal juga lebih
menguasai sumber-sumber bahan baku dan dapat mengusahakan bahan baku, maka pengusaha
kecil memiliki ketergan-tungan pada pemilik modal yang sekaligus penguasa bahan
baku. Akibat dan ketergantungan tersebut, otomatis harga jual produk yang
dihasilkan usaha kecil secara tidak langsung ditentukan oleh penguasa pasar dan
pemilik modal, maka terjadilah pasar monopsoni.
Dengan
kondisi ini, maka batas keuntungan
pengusaha kecil ditentukan oleh batas harga jual produk dan batas harga beli
bahan baku. Terjadilah repatriasi keuntungan yang mengakibatkan permodalan
usaha kecil jumlahnya tetap kecil. Kondisi tersebut mengakibatkan
ketengantungan pengusaha kecil yang menjadi buruh pada perusahaan sendiri
dengan upah yang ditentukan oleh batas keuntungan dari pemilik modal sekaligus
penguasa pasar dan penguasa sumber-sumber bahan baku.
Aspek
kelemahan Kultural. Kelemahan kultural mengakibatkan kelemahan struktural.
Kelemahan kultural mengakibatkan kurangnya akses informasi dan lemahnya
berbagai persyaratan lain guna memperoleh akses permodalan, pemasaran, dan
bahan baku, seperti:
·
Informasi
peluang dan cara memasarkan
produk
·
Informasi
untuk mendapatkan bahan baku yang
baik, murah, dan mudah didapat.
·
Informasi
untuk memperoleh fasilitas dan
bantuan pengusaha besar dalam menjalin hubungan kemitraan.
·
Informasi
tentang tata cara pengembangan produk,
baik desain, kualitas, maupun kemasannya.
·
Informasi
untuk menambah sumber permodalan
dengan persyaratan yang terjangkau.
Pengembangan
Usaha Kecil
Banyak
konsep yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi dan manajemen modern tentang
cara meraih keberhasilan usaha kecil dalam mempertahankan eksistensinya secara
dinamis. Dalam berbagai konsep strategi bersaing dikemu-kakan bahwa
keberhasilan suatu perusahaan sangat tergantung pada kemampuan internal. Untuk
menghadapi kondisi jangka panjang dan dinamis, perusahaan harus dikembangkan
melalui strategi yang berbasis pada pengembangan sumber daya internal secara
superior (internal resource-based strategy) untuk menciptakan kompetensi inti
(core competency).
Dalam
menghadapi krisis ekonomi nasional seperti sekarang ini, baik teori dynamic
strategy maupun teori resource-based strategy sangat relevan bila khusus
diterapkan dalam pemberdayaan usaha kecil. Menurut teori resources-based
strategy, agar perusahaan meraih keuntungan secara terus-menerus, maka perusahaan
harus mengutamakan kapabilitas internal yang superior, yang tidak transparan,
sukar ditiru atau dialihkan oleh pesaing dan memberi daya saing jangka panjang
(futuristik) yang kuat dan melebihi tuntutan masa kini di pasar dan dalam
situasi eksternal yang bergejolak.
Agar
perusahaan kecil berhasil take-off, maka harus ada usaha khusus yang diarahkan
untuk survival, consolidation, control, planning, dan expectation. Dalam
tahapan ini diperlukan penguasaan manajemen, yaitu mengubah pemilik sebagai
pengusaha (owners as businessman) yang merekrut tenaga dan diberi wewenang
secara jelas. Perubahan yang dilakukan, yaitu : bidang pemasaran harus mengubah
getting customer menjadi improve competitive situation, bidang keuangan tahap
cash flow berubah menjadi tahap tighten financial control, improve margin, and
control cost, dan bidang pendanaan usaha kecil harus sudah ventura capital.
Menurut
teori the design school, perusahaan harus mendesain strategi perusahaan yang
‘fit” antara peluang dan ancaman eksternal dengan kemampuan internal yang
memadai yang didukung dengan menumbuhkan kapabilitas inti (core competency)
yang merupakan kompetensi khusus (distinctive competency) dan pengelohaan
sumber daya perusahaan. Dalam konteks persaingan bebas yang semakin dinamis
seperti sekarang, perusahaan harus menekankan pada strategi pengembangan
kompetensi inti (building core competency), yaitu pengetahuan dan keunikan
untuk menciptakan keunggulan. Keunggulan tersebut dapat diciptakan melalui “The
New 7-S’ strategy (The New 7-S’s)”, yaitu :
-
Superior stakeholder
satisfaction, yaitu
mengutamakan kepuasan stakeholder.
-
Strategic sooth
saying, yaitu merancang strategi
yang membuat kejutan atau yang mencengangkan.
-
Position for
speed, yaitu posisi untuk
mengutamakan kecepatan.
-
Position for
surprise, yaitu posisi untuk
membuat kejutan.
-
Shifting the
role of the game, yaitu strategi
untuk mengadakan perubahan/pergeseran peran yang dimainkan.
-
Signaling strategic
intent, yaitu mengindikasikan
tujuan dan strategi.
-
Simultanous and
sequential strategic thrusts, yaitu
membuat rangkaian penggerak/pendorong strategi secara simultan dan
berurutan.
Berdasarkan
pandangan para ahli di atas, jelaslah bahwa kelangsungan hidup perusahaan baik
kecil maupun besar pada umumnya sangat tergantung pada strategi manajemen
perusahaan dalam memberdayakan sumber daya internalnya.
Bagaimana
cara dan apapun bidang/jenis usaha yang akan kita masuki pastilah memiliki
kelebihan dan kelemahan. Untuk itu kita harus dapat menentukan bidang dan jenis
usaha apa yang akan kita mulai, apakah kita mempunyai keahlian di bidang usaha
yang akan kita masuki tersebut, agar tidak mengalami kejadian yang fatal
dikemudian hari, yaitu usaha yang kita dirikan hancur atau berhenti begitu saja
karena kita tidak memiliki kompetensi di bidang usaha yang kita mulai.
“Orang
hebat tidak
dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui
kesukaran, tantangan, dan air mata.”
–
Dahlan Iskan (Mantan CEO Jawa Pos)

Komentar
Posting Komentar