Stress dan Kerja
Stress berarti
suatu urutan hal-hal yang sangat berbeda bagi orang yang berada. Kebanyakan definisi tentang stress mengakui
individu dan lingkungan tersebut dengan ukuran interaksi stimulus, interaksi tanggapan, atau interaksi tanggapan
dengan stimulus.
Definisi Stimulus
Definisi stimulus
stress adalah sebagai berikut: Stress adalah kekuatan atau stimulus yang menggerakkan individu sehingga
menghasilkan suatu tanggapan ketegangan, di mana ketegangan tersebut dalam pengertian fisik, mengalami perubahan
bentuk.
Definisi Tanggapan (Respon)
Definisi stress
adalah sebagai berikut: Stress adalah tanggapan fisiologis atau psikologis seseorang terhadap lingkungan penekan
(stressors), di mana penekan adalah kejadian ekstern atau situasi yang secara potensial mengganggu.
Definisi Kerja
Definisi kerja
ini melukiskan strss dalam suatu gambaran yang lebih negatif dibandingkan dengan kebanyakan definisi lainnya, yang
menempatkannya sebagai suatu istilah netral.
STRESS PSIKOFISIOLOGI
Jika karena
sesuatu alasan tanpa sengaja tangan anda menyentuh kompor yang panas, beberapa kejadian yang dapat diramalkan akan
terjadi. Anda akan merasa sakit. Dan juga akan ada kerusakan jaringan kulit yang terkena kompor tersebut.
Tergantung pada waktu reaksi anda, anda akan segera menarik tangan dari kompor. Mungkin anda melontarkan kata-kata
tertentu.
Kejadian tersebut
menggambarkan suatu interaksi antara anda dengan lingkungan itu adalah suatu kejadian yang mengakibatkan
konsekuensi fisik dan psikologis. Hal tersebut juga merupakan kejadian yang memproyeksikan tentang pengertian
stress dan cara kita menanggapinya secara fisik dan psikologis.
Sindrom Adaptasi Umum (GAS)
Dr. Hans Selye,
pelopor riset tentang stress menyusun konsep tanggapan psikofisiologis terhadap stress. Selye menganggap stress
sebagai tanggapan yang tidak khas terhadap setiap tuntutan terhadap organisme. Ia memberi nama ketiga fase reaksi
pertahanan yang dibentuk seseorang jika terjadi stress sebagai Sindrom Adaptasi Umum (GAS).
Tahap peringatan
(alarm stage) adalah awal pengerahan dimana tubuh bertemu tantangan yang ditimbulkan penekan.
Jika penekan
berlanjut, GAS maju ke tahap perlawanan. Tanda-tanda yang menunjukkan tahap perlawanan mencakup kejenuhan,
kecemasan, dan ketegangan. Orang tersebut sekarang sedang berjuang melawan penekan.
Tahap GAS yang
terakhir ialah peredaan (exhaustion). Perlawanan yang panjang dan terus-menerus terhadap penekan yang sama pada
akhirnya mungkin menghabiskan adaptif yang tersedia, dan sistem
perlawanan
terhadap penekan menjadi kendur.
Ketiga tahapan
GAS yaitu seperti gambar dibawah ini :
Sindrom Adaptasi Umum
STRESS DAN KERJA: SEBUAH MODEL
Bagi sebagian
besar individu yang bekerja, bekerja itu lebih dari sekedar kewajiban 40 jam seminggu. Bahkan jika waktu kerja
yang nyata 40 jam, jika kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut ditambahkan seperti waktu perjalanan
kedan dari tempt kerja, persiapan untuk bekerja, dan waktu makan siang maka kebanyakan individu mempergunakan 10
jam atau lebih seharinya untuk berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.
Tidak hanya
jumlah waktu yang banyak dipakai untuk kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan, tetapi banyak individu
menemukan porsi penting kepuasan mereka dan identitas dalam pekerjaannya. Konsekuensinya, kegiatan kerja dan
nonkerja saling bergantung. Perbedaan antara stress di tempat kerja dan stress di rumah adalah sesuatu tiruan
dalam keadaan paling baik. Sumber stress di tempat kerja tercurah ke dalam kegiatan nonkerja seseorang. Sebagai
konsekuensi adanya penekan yang dialami di tempat kerja, seseorang
mungkin pulang ke rumah dengan perasaan terganggu, marah dan letih.
Konsekuensi Stress
Pengerahan
mekanisme pertahanan tubuh bukanlah satu-satunya konsekuensi potensial yang timbul dari adanya kontak dengan
stressor. Dampak stress sangat banyak dan beragam.
Stress dan Pekerjaan : Sebuah
Model Kerja
Kategori yang
disusun Cox meliputi :
Dampak
subyektif : Kecemasan, agresi,
acuh, kebosanan, depresi, keletihan, frustasi, kehilangan kesabaran, rendah diri, gugup, merasa kesepian.
Dampak perilaku
(Behavioral effects): Kecenderungan
mendapat kecelakaan, alkoholik, penyalah gunaan obat-obatan, emosi yang tiba-tiba meledak, makan berlebihan,
merokok berlebihan, perilaku yang mengikuti kata hati, ketawa gugup.
Dampak
kognitif: Ketidakmampuan
mengambil keputusan yang jelas, kosentrasi yang buruk, rentang perhatian yang pendek, sangat peka terhadap
kritik, rintangan mental.
Dampak
fisiologis: Meningkatnya kadar
gula, meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah, kekeringan di mulut, berkeringat, membesarnya pupil mata,
tubuh panas dingin.
Dampak
organisasi: Keabsenan,
pergantian karyawan, rendahnya produktivitas, keterasingan dari rekan sekerja, ketidakpuasan kerja, menurunnya
keikatan dan kesetiaan terhadap organisasi.
Kelima jenis
tersebut tidak mencakup seluruhnya, juga tidak terbatas pada dampak-dampak dimana ada kesepakatan universal dan
untuk hal itu ada bukti ilmiah yang jelas, kesemuanya hanya mewakili beberapa dampak potensial yang sering
dikaitkan dengan stress.
Akan tetapi,
jangan diartikan bahwa stress selalu menyebabkan dampak seperti yang disebutkan di atas.
Dari perspektif
manajerial, masing-masing dari kelima kategori dampak stress seperti yang digambarkan diatas adalah penting.
Akan tetapi, pengunduran diri dan perilaku yang nonproduktif seperti keabsenan, pergantian karyawan, alkoholik,
dan penyalahgunaan obat-obatan, merupakan dampak yang mengganggu diukur dari hilangnya produktivitas dan biaya.
Suatu studi
terhadap 175 karyawan rumah sakit mengkaji stress sebagai satu penduga (predictor) pergantian pegawai. Kewajiban
keorganisasian, kepuasan kerja, dan kondisi kerja tidak dapat menduga adanya pergantian karyawan. Akan tetapi,
tingkat stress yang tinggi merupakan suatu penduga yang penting dari tindakan meninggalkan rumah sakit. Para
peneliti menyimpulkan bahwa karyawan yang tingkat stressnya rendah mempunyai harapan masa jabatan yang lebih
lama di rumah sakit itu.
Kecanduan
Alkohol (Alcoholism). Kecanduan alkohol adalah suatu penyakit yang dicirikan oleh minum alkohol berlebihan dan
berulang-ulang yang mengganggu kesehatan individu dan perilaku kerja. Mungkin tidak ada satu faktor pun yang
dapat menyebabkan kecanduan alkohol, karena hal itu merupakan satu kesatuan yang rumit. Diukur dari segi biaya
masyarakat dan hilangnya produktivitas, kecanduan alkohol merupakan penyakit yang mahal.
Para manajer
dapat melihat berbagai ciri orang kecanduan alkohol, yang meliputi :
1. Pola keabsenan yang
berlebihan: Senin, Jum’at, dan hari-hari sebelum dan sesudah hari libur.
2. Ketidakhadiran yang
sering dan tidak dapat dimaafkan.
3. Datang terlambat
dan pulang lebih awal.
4. Pertimbangan dan
keputusan buruk.
5. Penampilan pribadi
yang lusuh.
6. Meningkatnya
kegugupan dan tangan yang tiba-tiba menggigil.
7. Meningkatnya
tuntutan biaya rumah sakit, dokter, operasi.
Studi tersebut mengemukakan bahwa
hubungan antara stressor, stress, dan penyakit mungkin kurvalinier. Yaitu, mereka yang mempunyai beban kurang
dan mereka yang mempunyai beban lajak mewakili kedua ujung sebuah kontinuum, masing-masing dengan masalah
kesehatannya yang penting. Kontinuum beban kurang dan beban, seperti digambar dibawah ini :
Kontinum Beban Kurang/Beban
Lajak
Komentar
Posting Komentar