Kepemimpinan dan Kewirausahaan
A. KEPEMIMPINAN
DALAM KEWIRUSAHAAN
Keberhasilan
seorang wirausaha dalam bisnis tergantung bagaimana Ia memimpin organisasi usahanya dengan menggunakan pengaruh
untuk memotivasi pengikut dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
Menurut Gibson,
Ivancevich, & Donnelly (1985 : P 334),mendefinisikan bahwa kepemimpinan adalah suatu
upaya penggunaan jenis pengaruh bukan paksaan (concoersive) untuk memotivasi orang-orang
dalam mencapai tujuan tertentu.
seorang
wirausaha yang baik adalah seorang pemimpim dalam bisnis, haruslah orang yang dapat menguasai dan mengembangkan
diri sendiri, dan juga mampu menguasai serta mengarahkan dan mengembangkan para karyawannya. Inilah inti dari
efektivitas kepemimpinan seorang wirausaha, bagaimana seorang wirausaha harus menjalankan 3 variabel penting
yang tercakup dalam kepemimpinan untuk menuju wirausaha yang sukses sebagai berikut:
1. Menggunakan
Pengaruh
Kepemimpinan
adalah menyangkut penggunaan dan penanaman pengaruh dalam rangka memotivasi dan mengarahkan pegawainya.
Bagaimana seorang wirausaha menanamkan dan menggunakan pengaruh pada saat yang tepat melalui faktor motivasi
eksternal. Bahwa
imbalan-imbalan
dalam motivasi eksternal, merupakan alat yang digunakan oleh seorang wirausaha dalam rangka menanamkan dan
menggunakan
pengaruhnya. Pemberian imbalan-imbalan tersebut merupakan proses menanamkan pengaruh terhadap karyawan.
2. Menciptakan komunikasi yang jelas dan
dapat dipercaya.
Kejelasan dan
ketepatan komunikasi mempengaruhi perilaku dan prestasi pengikut. Bahwa kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi
kegiatan pengikut melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Maka proses komunikasi yang efektif
perlu dipahami dan diciptakan oleh seorang wirausaha.
3. Menetapkan pencapaian tujuan
perusahaan.
Pemimpin yang
efektif mungkin harus berurusan dengan tujuan individu karyawannya, kelompok dan organisasi perusahaan.
Keefektifan pemimpin khususnya dipandang dengan ukuran tingkat pencapaian satu atau kombinasi tujuan tersebut.
Individu mungkin memandang seorang pemimpin efiktif atau tidak dilihat dari sudut kepuasan yang mereka peroleh
selama pengalaman kerja yang diikutinya.
B. KEPEMIMPINAN MENURUT JENDELA
JOHARI
Perbedaan antara
kepribadian kepemimpinan dengan gaya kepemimpinan , dalam kaitan ini adalah :
1. Kepribadian
kepemimpinan
2. Mencakup persepsi
pribadi dan persepsi orang lain.
3. Gaya kepemimpinan :
4. Hanya mencakup
perilaku kepemimpinan seseorang menurut persepsi orang lain (persepsi atasan,bawahan,rekan kerja dan sebagainya)
Menurut konsep
ini, terdapat sikap atau perilaku tertentu yang dilakukan dalam proses kepemimpinan :
a. Keperibadian
kepemimpinan yang diketahui oleh pribadi sendiri pimpinan yang bersangkutan,bidang yang diketahuisendiri ini
termasuk pengetahuan mereka tentang cara mereka memimpin orang lain ( dampak prilaku mereka terhadap orang orang
yang dipengaruhinya atau yang dipimpinnya ).
b. Kepribadian
kepemimpinan tidak diketahui oleh pemimpin yang bersangkutan, artinya dalam hal-hal tertentu pemimpin tidak
mengetahui dampak perilakunya terhadap orang lain
yang dipengaruhinya (hal itu dapat terjadi karena yang dipengaruhinya belum menyampikan balikan atau masukan
kepada pemimpin atau mungkin karena pemimpin tidak cukup waspada menangkap balikan itu).
c. Dalam kepribadian
kepemimpinan juga tercakup perilaku dan sikap yang diketahui orang lain dalam lingkungan organisasiserta yang
tidak diketahui orang lain. Dalam hubungannya dengan hal-hal yang diketahui dan tidak diketahui sendiri serta
hal-hal yang diketahui dan tidak diketahui orang lain, kita dapat membentuk empat bidang yang membentuk itu
secara keseluruhan
C. TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN
DEFINISI KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi kegiatan
pengikut melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu.
TEORI SIFAT
Banyak karya
terdahulu tentang kepemimpinan menitikberatkan pengidentifikasian ciri-ciri pemimpin yang efektif. Pendekatan
ini didasarkan pada asumsi bahwa dapat ditemukan sejumlah ciri individu terbatas dari pemimpin yang efektif.
Jadi, sebagian besar riset dirancang untuk mengidentifikasi ciri-ciri intelektual, emosional, fisik, dan
ciri-ciri pribadi lainnya dari pemimpin yang berhasil. Unsur-unsur testing kepegawaian dari manajemen keilmuan
dalam kadar yang signifikan, mendukung teori sifat kepemimpinan. Selain ditelaah melalui testing kepegawaian,
ciri-ciri pemimpin juga telah diteliti berdasarkan pengamatan perilaku dalam situasi kelompok, pilihan kolega
(pemilihan), penunjukan peringkat oleh pengamat, dan analisis data biografis.
Kecerdasan (Intelligence)
Setelah meninjau
sejumlah 33 hasil penelitian, Stogdill menemukan suatu kecenderungan umum yang menunjukkan bahwa pemimpin lebih
cerdas dari pengikutnya. Salah satu penemuan yang penting ialah bahwa perbedaan kecerdasan yang menyolok antara
pemimpin dan pengikutnya mungkin akan tidak fungsional. Misalnya, seorang pemimpin yang IQ nya relatif tinggi,
yang mencoba mempengaruhi suatu kelompok yang anggotanya mempunyai IQ rata-rata, mungkin tidak dapat memahami
mengapa anggota kelompok tersebut tidak memahami masalah yang dihadapi. Selain itu, pemimpin semacam itu mungkin
mendapat kesukaran untuk mengkomunikasikan gagasan dan kebijaksanaannya. Terlalu pandai pun dapat menimbulkan
masalah dalam situasi tertentu.
Kepribadian (Personality)
Beberapa hasil
riset menunjukkan bahwa sifat kepribadian seperti keuletan, orisinalitas, integritas pribadi, dan kepercayaan
diri berkaitan dengan kepemimpinan yang efektif.
Ghiselli
melaporkan beberapa sifat kepribadian yang cenderung dikaitkan dengan keefektifan pemimpin.
Misalnya, ia
menemukan bahwa inisiatif dan kemampuan untuk bertindak dan memprakarsai tindakan secara mandiri berkaitan
dengan tingkat dalam organisasi responden. Semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi, semakin penting
pula sifat ini. Ghiselli juga menemukan bahwa keyakinan diri (self assurance) berkaitan dengan posisi hirarkis
dalam organisasi.
Akhirnya, ia
menemukan bahwa individu yang menampilkan kepribadiannya adalah pemimpin yang paling efektif. Beberapa penulis
mengemukakan bahwa kepribadian tidak ada kaitannya dengan kepemimpinan. Pandangan ini terlalu mengganggu jika
kita mempertimbangkan bahwa kepribadian telah terbukti berkaitan dengan persepsi, sikap, belajar, dan motivasi.
Masalahnya ialah
upaya menemukan cara yang sahih untuk mengukur sifat kepribadian. Tujuan ini sulit dicapai, tetapi meskipun
lambat, sudah ada kemajuan.
Karakteristik Fisik (Physical
Characteristics)
Studi tentang
hubungan antara kepemimpinan yang efektif dengan karakteristik fisik seperti umur, tinggi, dan berat badan, dan
penampilan mengungkapkan hasil yang bertentangan.
Tubuh yang
terlalu tinggi dan terlalu berat dibanding rata-rata kelompok tentunya tidak menguntungkan untuk mencapai posisi
kepemimpinan. Akan tetapi, banyak organisasi yang membutuhkan orang dengan fisik yang besar untuk menjamin
kepatuhan pengikutnya. Dugaan ini terlalu menekankan kekuasaan berdasarkan paksaan dan ketakutan. Di lain pihak,
Truman, Gandhi, Napoleon, dan Stalin adalah contoh individu berperawakan kecil yang muncul sebagai pemimpin.
Kemampuan Supervisi
Dengan
menggunakan pengharkatan pemimpin, Ghiselli menemukan adanya hubungan positif antara kemampuan supervisi
seseorang dengan tingkat dalam hirarki organisasi. Kemampuan supervisi didefinisikan sebagai ―pendayagunaan
segala bentuk praktek supervisi secara efektif ditunjukkan oleh persyaratan situasi tertentu. Sekali lagi,
diperlukan ukuran konsep, dan ini adalah masalah yang sulit dipecahkan.
Ringkasan dari
sifat-sifat pemimpin yang paling banyak diteliti disajikan dalam Tabel 10 – 1.
Ringkasan
tersebut merangkum semua ciri yang telah ditemukan paling besar kemungkinannya menjadi ciri pemimpin yang
sukses. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ciri-ciri tersebut menyumbang bagi keberhasilan kepemimpinan.
TEORI PERILAKU PRIBADI
Pada akhir tahun
1940-an, para peneliti mulai menjelajahi ungkapan bahwa cara seseorang bertindak menentukan keefektifan
kepemimpinan orang yang bersangkutan. Daripada mencari-cari ciri, para peneliti itu mengkaji perilaku dan
dampaknya atas prestasi dan kepuasan para pengikut. Sekarang terdapat sejumlah teori kepemimpinan perilaku
pribadi yang terkenal.
Untuk
masing-masing teori tersebut, akan diuraikan pengklasifikasian dan penelitian perilaku kepemimpinan
Pendekatan
keperilakuan pribadi telah menyediakan para praktisi dengan berbagai keterangan tentang perilaku yang harus
dimiliki pemimpin. Pengetahuan ini telah menghasilkan penyusunan program pelatihan bagi individu yang
melaksanakan tugas kepemimpinan. Masing-masing pendekatan tersebut juga dikaitkan dengan para ahli teori, para
peneliti dan konsultan
yang terkemuka,
dan masing-masing telah dipelajari dalam lingkungan keorganisasian yang berbeda. Namun, kedua teori tersebut
belum menunjukkan kaitan antara kepemimpinan dan indikator prestasi yang penting seperti produksi, efisiensi,
dan kepuasan secara meyakinkan.
TEORI SITUASIONAL
teori
kepemimpinan situasional yang mengemukakan bahwa keefektifan kepemimpinan tergantung pada kecocokan antara
kepribadian, tugas, kekuasaan, sikap, dan persepsi.
Menentukan cara
memimpin orang lain merupakan hal yang sulit dan memerlukan suatu analisis tentang pemimpin, kelompok, dan
situasi. Para manajer yang waspada tentang kekuatan yang mereka hadapi akan mampu bersiap-siap memodifikasi gaya
mereka menanggulangi perubahan dalam lingkungan kerja. Tiga faktor yang sangat penting adalah kekuatan atas
manajer, kekuatan dalam diri bawahan dan kekuatan dalam situasi. Tannenbaum dan Schmidt mengungkapkan tema
situasional itu sebagai berikut :
Jadi, para
manajer yang berhasil terutama dicirikan bukan sebagai pemimpin yang kuat dan juga bukan sebagai orang yang
serba membolehkan. Melainkan, ia seseorang yang mengutamakan suatu pukulan rata-rata yang tinggi yang secara
tepat menilai semua kekuatan yang menentukan perilaku yang paling tepat diterapkan pada suatu situasi tertentu
dan karenanya berperilaku sesuai dengan situasi itu.
MODEL KEPEMIMPINAN KONTINGENSI
Model
kontingensi keefektifan kepemimpinan dikembangkan oleh Fiedler. Model tersebut mendalilkan bahwa prestasi
kelompok tergantung pada interaksi antara gaya kepemimpinan dengan kadar menguntungkan tidaknya situasi.
Kepemimpinan dipandang sebagai suatu hubungan yang didasarkan atas kekuasaan dan pengaruh. Oleh karena itu
muncul dua
macam
pertanyaan: (1) Pada tingkat apa situasi menyediakan kekuasaan dan pengaruh yang diperlukan pemimpin agar
efektif, dan seberapa menguntungkan faktor-faktor situasi tersebut? Dan (2) Sejauh mana pemimpin dapat
meramalkan dampak gayanya atas perilaku dan prestasi pengikut-pengikut?
Gaya Pemimpin
Fiedler menaruh
perhatian tentang pengukuran orientasi kepemimpinan seseorang. Ia mengembangkan Skala Rekan Kerja yang Kurang
Disukai. Ini merupakan upaya pengukuran yang dilakukan Fiedler untuk menentukan seberapa positif atau negatifnya
seseorang terhadap rekan kerja yang kurang disukai (Least Preferred Co-Worker Scale—LPC) untuk mengukur dua gaya
kepemimpinan : (1) berorientasi tugas, atau kepemimpinan yang mengendalikan, menstruktur; dan (2) berorientasi
hubungan, atau kepemimpinan pasif, penuh perhatian. Luangkan waktu
Mengubah Hubungan Pemimpin –
Anggota
1. Sediakan waktu atau
kurangi waktu yang sifatnya informal dengan bawahan anda (waktu makan siang, kegiatan waktu luang, dan
sebagainya)
2. Mintakan
orang-orang tertentu untuk bekerja dalam kelompok anda.
3. Bersukarela
mengarahkan bawahan yang mengganggu.
4. Sarankan atau alih
tugaskan bawahan tertentu ke dalam atau ke luar unit kerja anda.
5. Tingkat moral dengan
mendapatkan hasil yang positif untuk bawahan (misalnya bonus khusus, waktu libur, atau pekerjaan yang menarik).
Mengubah Struktur Tugas
Jika anda ingin melakukan pekerjaan
yang kurang terstruktur, anda dapat :
1. Jika mungkin, minta
atasan anda agar ia memberikan anda tugas baru atau masalah yang tidak biasa dan memberikan keleluasaan bagi
anda untuk merencanakan cara menyelesaikannya.
2. Bawa masalah dan
tugas tersebut kepada anggota kelompok anda, dan ajak mereka bekerja sama dalam tahap perencanaan dan
pengambilan
keputusan tugas tersebut.
Jika anda ingin bekerja dalam tugas
sangat terstruktur, anda dapat :
1. Meminta atasan anda
agar ia memberi tugas yang lebih terstruktur atau memberi anda instruksi yang lebih rinci.
2. Uraikan tugas
tersebut menjadi sub-subtugas yang lebih kecil yang akan menjadi lebih terstruktur.
Mengubah Kekuasaan Posisi
Untuk meningkatkan kekuasaan posisi
anda, anda dapat :
1. Menunjukkan pada
bawahan siapa yang jadi atasan dengan melaksanakan kekuasaan yang diberikan organisasi.
2. Pastikan bahwa
informasi untuk kelompok anda tersalur melalui anda. Untuk memperkecil kekuasaan posisi anda, anda dapat :
1. Mengajak anggota
kelompok untuk ikut serta dalam fungsi perencanaan dan pengambilan keputusan.
2. Membiarkan pembantu
anda melaksanakan kekuasaan yang relatif agak besar.
Komentar
Posting Komentar