Kepemimpinan dan Politik
KEKUASAAN
DAN POLITIK
Kekuasaan
adalah
suatu bagian yang merasuk ke seluruh sendi kehidupan organisasi. Manajer dan
nonmanajer menggunakannya. Mereka memanipulasi kekuasaan untuk mencapai tujuan
dan dalam kebanyakan hal untuk memperkuat kedudukan mereka. Keberhasilan atau
kegagalan seseorang dalam menggunakan atau bereaksi terhadap kekuasaan,
sebagian besar ditentukan oleh pemahaman tentang kekuasaan, dengan mengetahui
bagaimana dan bila menggunakannya, serta mampu mengantisipasi kemungkinan
dampaknya.
KEKUASAAN
DAN
WEWENANG
Studi
tentang kekuasaan dan dampaknya merupakan hal
yang penting untuk memahami cara kerja organisasi. Memang mungkin mengartikan
setiap interaksi dan hubungan sosial dalam suatu organisasi sebagai melibatkan
penggunaan kekuasaan. Cara pengendalian subunit organisasi dan individu,
berkaitan dengan isyu tentang kekuasaan. Secara sederhana kekuasaan
didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk memperoleh sesuatu sesuai
dengan cara yang dikehendaki orang tersebut.
Kekuasaan seorang
manajer yang
menginginkan peningkatan jumlah sumber keuangan adalah kemampuannya untuk
memperoleh sumber daya yang diinginkan itu. Kekuasaan seorang wiraniaga
(salesperson) yang menginginkan wilayah penjualannya diperluas adalah
kemampuannya untuk memperoleh wilayah yang lebih luas itu.
Wewenang adalah
kekuasaan formal
yang dimiliki seseorang karena posisi yang ia pegang dalam organisasi. Arahan
atau perintah dari seorang manajer dalam posisi yang berwewenang diikuti karena
perintah tersebut harus dipatuhi. Dengan demikian, orang-orang pada posisi yang
lebih tinggi mempunyai wewenang yang sah atas para bawahan yang posisinya lebih
rendah. Dalam hirarki wewenang, pejabat eksekutif pusat berada di atas manajer
distrik, yang membawahi para wiraniaga. Dewasa ini wewenang dianggap mempunyai
unsur-unsur sebagai berikut :
- Wewenang ditanamkan dalam posisi seseorang. Seseorang mempunyai wewenang karena posisi yang ia duduki, bukan karena karakteristik pribadinya yang khusus.
- Wewenang tersebut diterima bawahan. Individu pada posisi wewenang yang sah melaksanakan wewenang dan dipatuhi karena ia mempunyai hak yang sah.
- Wewenang digunakan secara vertikal. Wewenang mengalir dari atas ke bawah dalam hirarki organisasi.
BASIS
KEKUASAAN
Kekuasaan
dapat
berasal dari banyak sumber. Bagaimana kerkuasaan tersebut diperoleh dalam suatu
organisasi sebagian besar tergantung atas jenis kekuasaan yang sedang
dicari. Kekuasaan dapat berasal dari basis antarpribadi, struktural, dan
situasi.
Kekuasaan
Antarpribadi
French dan Raven mengajukan lima basis kekuasaan antarpribadi:
Legitimasi,
imbalan, paksaan, ahli, referen.
Kekuasaan
legitimasi (Legitimate
Power).
Kekuasaan
legitimasi adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi karena
posisinya. Seseorang yang tingkatannya lebih tinggi mempunyai kekuasaan atas
orang-orang yang kedudukannya lebih rendah. Dalam teori, tingkat organisasi
yang sederajat (misalnya semua penyelia ini pertama) mempunyai kekuasaan
legitimasi yang sederajat.
Kekuasaan
Imbalan (Reward Power).
Jenis
kekuasaan ini
didasarkan atas kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan kepada
pengikutnya karena kepatuhan mereka. Kekuasaan imbalan digunakan untuk
mendukung penggunaan kekuasaan legitimasi. Jika pengikut memandang imbalan atau
kemungkinan imbalan yang dapat disediakan seseorang sebagai sesuatu yang
bernilai (pengakuan, penugasan suatu pekerjaan, peningkatan upah, sumber
tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan), mereka akan tanggap terhadap printah,
permintaan, dan petunjuk. Misalnya seorang manajer penjualan yang dapat
menghargai wiraniaganya dengan bonus tunai, memperpanjang daftar pelanggan, atau
tambahan dana hiburan, ia dapat melaksanakan kekuasaan imbalan.
Kekuasaan
Paksaan (Coercive
Power).
Kebalikan
dari
kekuasaan imbalan ialah kekuasaan paksaan, yaitu
kekuasaan untuk menghukum. Para pengikut mungkin patuh karena takut. Seorang
manajer dapat menunda promosi atau memperolok seorang bawahan karena
prestasinya. Praktek ini dan upaya menakut-nakuti yang akan mereka gunakan
adalah kekuasaan paksaan. Meskipun hukuman mungkin mengakibatkan dampak
sampingan yang tidak diharapkan (dibahas dalam Bab 6), hukuman adalah bentuk
kekuasaan paksaan yang masih digunakan untuk memperoleh kepatuhan atau untuk
memperbaiki perilaku yang tidak produktif dalam organisasi.
Kekuasaan
Ahli (Expert Power).
Seseorang
mempunyai
kekuasaan ahli juka ia memiliki keahlian khusus yang dinilai
tinggi.
Perkaitan
Dasar Kekuasaan menurut Pandangan Bawahan
Manajer
Berbeda
(imbalan,
legitimasi, hukuman, atau paksaan), ternyata terdapat keterkaitan satu sama
lain. Eksperimen lapangan tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan legitimasi dan
kekuasaan imbalan mempunyai hubungan yang positif, sedangkan kekuasaan hukuman
mempunyai hubungan terbalik dengan kekuasaan legitimasi dan dengan kekuasaan
imbalan.
KEBUTUHAN
AKAN
KEKUASAAN
Sepanjang
sejarah, manusia selamanya terpesona oleh
kekuasaan. Dalam kepustakaan Cina kuno, perhatian akan kekuasaan secara jelas
dikemukakan – kekuasaan menjinakkan dari yang agung )the taming power of the
great), kekuasaan cahaya (the power of light), kekuasaan kegelapan (the power
of the dark). Tulisan terdahulu yang bersifat religius juga berisikan berbagai
acuan kepada orang yang memiliki atau memperoleh kekuasaan. Catatan historis
menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat sejauh mana orang-orang telah mengejar,
menakuti, menikmati, atau menyalahgunakan kekuasaan. Sekarang, kesan tentang
orang yang mencari kekuasaan pada umumnya dianggap cukup negatif, Misalnya,
pencari kekuasaan digambarkan sebagai:
Penderita
sakit syaraf yang menutup-nutupi perasaan
rendah diri, kecemasan, dan kebencian.
Menggantikan
kekuasaan karena kurangnya rasa kasih
sayang, terkucil, dan hilangnya rasa persahabatan.
Mencoba
mengkompensasikan rasa kehilangan yang dialami
di masa kanak-kanak.
Pencari
kekuasaan (power seeker) telah dijuluki
sebagai lemah, sakit syaraf, dan mengganggu. Hal ini tentu saja mungkin benar
bagi sebagian pencari kekuasaan (misalnya Adolf Hitler), tetapi menggolongkan
semua pencari kekuasaan dalam kategori ini agaknya terlalu melebih-lebihkan dan
terlalu umum.
McClelland
mengemukakan bahwa kekuasaan dapat dicapai
dan digunakan secara bertanggung jawab. McClelland juga mengkaji kebutuhan
akan kekuasaan.
Riset
tentang kebutuhan kekuasaan yang diselenggarakan
oleh McCleland dan rekannya telah menyimpulkan bahwa para manajer yang paling
efektif memiliki karakteristik sebagai berikut :
o
Mereka
memiliki kebutuhan
kekuasaan yang tinggi.
o
Mereka
menggunakan kekuasaan
untuk mencapai tujuan organisasi.
o
Mereka
mempraktekkan gaya
partisipatif atau “melatih” jika berinteraksi dengan para pengikut.
o
Mereka
tidak mengkonsentrasikan
diri untuk mengembangkan hubungan yang akrab dengan orang lain.
Manajer
yang efektif dalam riset McClelland ditetapkan
sebagai“manajer institusional” karena mereka
menggunakan kekuasaan untuk mencapai tujuan (institusional)
organisasi. Manajer institusional lebih efektif dari pada manajer kekuasaan
pribadi (personal power manager), yang menggunakan kekuasaan
mereka
untuk kepentingan pribadi, dan manajer
afiliatif yang lebih mengutamakan disukai daripada menggunakan kekuasaan
mereka.
Gambar
dibawah mengikhtisarkan tanggapan bawahan
tentang manajer yang dianggap menggunakan ketiga gaya kekuasaan yang
berbeda. McClelland juga telah menemukan bahwa orang yang tinggi skor
kebutuhan kekuasaannya, rendah dalam kebutuhan berafiliasi, dan tinggi dalam
pengendalian diri, adalah manajer.
Tanggapan
Bawahan
Terhadap Manajer dengan Profil Motif yang Berbeda
Hasil
riset yang didorong dan diselenggarakan oleh
McClelland menyajikan berbagai bukti yang bertentangan terhadap kesan negatif
yang secara historis dikaitkan kepada semua pencari kekuasaan. Pernyataan bahwa
semua pencari kekuasaan adalah lemah, sakit syaraf, dan mengganggu sama
ganjilnya dengan mengatakan bahwa semua pencari kekuasaan adalah efektif, dapat
menyesuaikan diri dengan baik, dan sangat termotivasi. Inilah yang dimaksudkan
oleh McClelland sebagai “dua sisi kekuasaan”. Satu sisi menggambarkan pencari
kekuasaan dalam pengertian negatif. Sisi yang lain menunjukkan bahwa kekuasaan
dapat digunakan untuk mencapai tujuan, penggunaan sumber daya secara efesien,
dan membantu pengikut untuk lebih merasa berpengaruh. Pandangan McClelland
nampaknya lebih realistik dan benar dibandingkan dengan pandangan bahwa semua
pencari kekuasaan adalah lemah dan sakit syarat.
KEKUASAAN
STRUKTURAL DAN SITUSIONAL
Preffer
telah mengemukakan bahwa kekuasaan terutama
ditentukan oleh struktur didalam organisasi. Ia memandang struktur organisasi
sebagai mekanisme pengendalian yang mengatur organisasi. Dalam tatanan struktur
organisasi, kebijaksanaan pengambilan keputusan dialokasikan ke berbagai
posisi. Juga struktur membentuk pola komunikasi dan arus informasi.
Jadi,
struktur organisasi menciptakan kekuasaan dan
wewenang formal dengan mengkhususkan orang-orang tertentu untuk melaksanakan
tugas pekerjaan khusus dan mengambil keputusan tertentu serta dengan mendorong
kekuasaan informal melalui dampaknya atas struktur informasi dan komunikasi di
dalam sistem tersebut.
Kita
telah membahas kaitan posisi formal dengan
kekuasaan dan wewenang. Hak-hak, tanggung jawab, dan hak-hak istimewa tertentu
tumbuh dari posisi seseorang. Bentuk lain kekuasaan struktur mewujud karena
sumber daya, pengambilan keputusan, dan informasi.
Sumber
Daya
Argumentasi
Kanter agak menyakinkan bahwa kekuasaan
berasal dari (1) penggunaan sumber daya, informasi, dan dukungan; serta (2)
kemampuan memperoleh kerja sama untuk melakukan pekerjaan yang perlu. Kekuasaan
terjadi jika seseorang mempunyai saluran terbuka atas sumber daya dana , sumber
daya manusia, teknologi, bahan baku, pelanggan, dan sebagainya. Dalam
organisasi, sumber daya vital dialokasikan ke bahwa sepanjang garis hirarki.
Manajer tingkat atas mempunyai kekuasaan lebih banyak untuk mengalokasikan
sumber daya dibandingkan dengan para manajer lain yang
berada
pada hirarki
manajerial lebih rendah. Manajer tingkat yang lebih rendah menerima sumber daya
yang diberikan oleh manajer tingkat atas. Untuk menjamin pencapaian tujuan,
manajer tingkat atas (direktur utama, wakil direktur utama, dan para direktur)
mengalokasikan sumber daya atas dasar prestasi dan kepatuhan.
Jadi,
seorang manajer tingkat atas biasanya mempunyai
kekuasaan atas manajer yang lebih rendah karena manajer yang disebut terakhir
harus menerima sumber daya dari atas untuk mencapai tujuan.
Hubungan ketergantungan tersebut
terjadi karena terbatasnya sumber daya dan pembagian pekerjaan. Tanpa kepatuhan
yang cukup terhadap tujuan dan permintaan manajemen teras, manajer pada tingkat
yang lebih rendah tidak dapat menerima sumber daya yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan. Pembagian pekerjaan (misalnya posisi dalam hirarki)
memberikan hak istimewa kepada manajemen pada tingkat yang lebih tinggi, karena
posisinya, bukan mengalokasikan sumber daya yang terbatas.
Bahkan
seorang pejabat eksekutif kepala bersifat
bergantung dalam suatu organisasi.
Kekuasaan
Pengambilan Keputusan
Kadar
sejauh mana orang-orang atau subunit (misalnya
sebuah departemen atau sebuah kelompok projek khusus) dapat mempengaruhi
pengambilan keputusan, menentukan kadar kekuasaan yang dibutuhkan. Seseorang
atau subunit yang memiliki kekuasaan dapat mempengaruhi bagaimana terjadinya
proses pengambilan keputusan, alternatif apa yang dipertimbangkan, dan kapan
suatu keputusan diambil. Misalnya, ketika Richard Daley menjadi walikota
Chicago, ia dikenal sebagai seorang perantara kekuasaan. Ia tidak saja
mempengaruhi proses pengambilan keputusan, tetapi juga mempunyai kekuasaan
untuk menentukan keputusan mana yang akan diprioritaskan dalam dewan kota dan
kapan keputusan tersebut akan diambil. Ia seorang politis yang sangat
berpengaruh karena dipandang sebagai seorang ahli dalam mengendalikan setiap
langkah keputusan penting.
Kekuasaan
Informasi
Memiliki
akses atas informasi yang relevan dan penting
adalah kekuasaan. Para akuntan umumnya tidak mempunyai basis kekuasaan
antarpribadi khusus yang kuat atau jelas dalam suatu organisasi. Sebaliknya,
para akuntan mempunyai kekuasaan karena mereka mengendalikan informasi yang
penting. Jadi, mereka yang mempunyai informasi yang diperlukan untuk mengambil
keputusan yang optimal mempunyai kekuasaan. Posisi akuntan dalam struktur
organisasi mungkin tidak menggambarkan secara tepat bobot kekuasaan yang mereka
miliki.
Gambaran
yang benar tentang kekuasaan seseorang tidak
hanya disediakan oleh posisi orang yang bersangkutan, tetapi juga oleh
penguasaan orang yang bersangkutan atas informasi yang relevan.
Sejumlah
situasi organisasi dapat berfungsi sebagai
sumber kekuasaan atau sumber ketidakberkuasaan (tidak memperoleh kekuasaan).
Manajer yang sangat berkuasa muncul karena ia mengalokasikan sumber daya yang
dibutuhkan, mengambil keputusan yang penting, dan memiliki akses atas informasi
yang penting. Dialah yang memungkinkan segala sesuatu terjadi.
Akan
tetapi, manajer yang tidak mempunyai kekuasaan
tidak mempunyai sumber daya atau informasi atau hak-hak prerogatif dalam
pengambilan keputusan yang diperlukan agar produktif. Tabel 10 – 1 menyajikan
beberapa gejala dan sumber ketidakberkuasaan manajer lini pertama, staf
profesional, dabn para manajer tingkat atas.
Gejala
Sumber
Ketidakberkuasaan
Tabel
ditas menunjukkan bahwa seorang manajer lini
pertama akan menampilkan sejumlah gejala ketidakberkuasaan seperti menyelia
bawahan secara sangat ketat dan tidak menaruh perhatian yang banyak tentang
pelatihan atau pengembangan bawahan. Jika gejala semacam ini terjadi
kemungkinan orang yang bersangkutan tidak mempunyai kekuasaan. Selama
bertahun-tahun
wanita
sebagai suatu kelompok umumnya tidak memiliki
kekuasaan organisasi yang penting. Dalam banyak situasi, mereka tidak berkuasa.
Sebenarnya wanita dapat menggunakan kekuasaan secara efektif seperti halnya
pria dan konsekuensinya tidak ada alasan bagi ketidakpuasan tersebut untuk
menunjukkan kondisi umum para wanita dalam lingkungan organisasi.
Komentar
Posting Komentar